Pertambangan merupakan sejumlah atau seluruhnya stage aktivitas dalam rencana analisis, pengendalian serta pengusahaan mineral atau batu bara yang mencakup penyidikan biasa, eksplorasi, studi kelayakan konstruksi, penambangan, pemrosesan serta pemurnian, pengangkutan serta penjualan, dan aktivitas masa tambang (Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 terkait Pertambangan Mineral serta Batubara).

Pengertian tentang Pertambangan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI, 1990), artian menambang merupakan menggali (ambil) barang tambang dari dalam tanah. Dan menurut Supramono (2012), pertambangan merupakan satu aktivitas yang dijalankan dengan penggalian ke tanah (bumi) buat memperoleh suatu hal yang berbentuk hasil tambang.

Pertambangan mineral merupakan pertambangan kelompok mineral yang berbentuk bijih atau batuan, di luar panas bumi, minyak serta gas bumi, dan air tanah. Mineral ialah senyawa organik yang terjadi di alam, yang punyai pembawaan fisik serta kimia tersendiri dan skema kristal teratur atau gabunganya yang membuat batuan, baik berbentuk terlepas atau padu. Pertambangan batubara merupakan pertambangan endapan karbon yang ada dalam bumi, termasuk juga bitumen padat, gambut, serta batuan aspal.

Industri pertambangan jadi industri hulu yang membuahkan sumber daya mineral serta adalah sumber bahan baku untuk industri hilir yang dibutuhkan oleh umat manusia di pelosok dunia. Bidang pertambangan adalah bidang yang strategis, tidak hanya itu untuk wilayah yang kaya sumber daya alamnya, pertambangan adalah tulang punggung untuk penghasilan wilayah itu (Djajadiningrat 2007).

Beberapa jenis Pertambangan

Berdasar pada mode penambangan yang dijalankan, pertambangan dibagi berubah menjadi dua model, ialah (Sudrajat, 2010):

1. Tambang terbuka (surface mining). Penentuan mode tambang terbuka rata-rata dipraktekkan buat bahan galian yang keterdapatannya relatif dekat sama bumi. Sebelum melaksanakan penggalian atau pemungutan bahan galian, lebih dahulu mesti melaksanakan beberapa pekerjaan pendahuluan seperti; pembersihan ide tambang (land clearing), pengupasan tanah penutup (over burden) serta penggalian atau perombakan bahan galian (digging). 

2. Tambang bawah tanah (underground mining). Penentuan sistem penambangan dengan mode tambang bawah tanah (underground mining), sangatlah ditetapkan oleh faktor-faktor tehnis situasi geologi bahan galian yang dapat ditambang serta elemen simpatisan yang lain.

Berdasar pada pengurusan izin upaya pertambangan yang dijalankan, pertambangan dibagi berubah menjadi menjadi tiga model, ialah (Sulto, 2011):

1. Bahan galian strategis kelompok A, terbagi dalam: minyak bumi, aspal, antrasit, batu bara, batu bara muda, batu bara tua, bitumen, bitumen cair, bitumen padat, gas alam, lilin bumi, radium, thorium, uranium, serta beberapa bahan galian radio aktif yang lain (diantaranya kobalt, nikel serta timah).

2. Bahan galian penting kelompok B, terbagi dalam: air raksa, antimon, aklor, arsin, bauksit, besi, bismut, cerium, emas, intan, khrom, mangan, perak, plastik, rhutenium, seng, tembaga, timbal, titan/titanium, vanadium, wolfram, serta beberapa bahan logam langka yang lain (diantaranya barit, belerang, berrilium, fluorspar, brom, koundum, kriolit, kreolin, kristal, kwarsa, yodium, serta zirkom).

3. Bahan galian kelompok C, terbagi dalam; pasir, tanah uruk, serta batu kerikil.

Berdasar pada model komoditas tambang yang diupayakan, pertambangan dibagi berubah menjadi empat model, ialah (UU No. 4 Tahun 2009 terkait Pertambangan Mineral serta Batubara):

1. Mineral radioaktif. Mineral radioaktif merupakan mineral yang memiliki kandungan unsur uranium serta thorium. Mineral radioaktif dibagi berubah menjadi lima jenis ialah radium, thorium, uranium, monasit, serta bahan galian radio aktif yang lain.

2. Mineral logam. Mineral logam adalah mineral yang tidak tembus pandang serta bisa menjadi penghantar panas serta arus listrik. Mineral logam dibagi berubah menjadi 59 jenis ialah litium, berilium, magnesium, kalium, kalsium, emas, tembaga, perak, timbal, seng, timah, nikel, mangan, platina, bismuth, molybdenum, bauksit, air raksa, wolfram, titanium, barit, vanadium, kromit, antimony, kobalt, tantalum, cadmium, gallium, indium, yytrium, magnetit, besi, galena, alumina, niobium, zirconium, ilmenit, khrom, erbium, ytterbium, dysprosium, thorium, cesium, lanthanum, niobium, neodymium, hafnium, scandium, alumunium, palladium, rhodium, osmium, ruthenium, iridium, selenium, telluride, strontium, germanium serta zenotin.

3. Mineral bukan logam. Mineral bukan logam dibagi berubah menjadi 40 jenis ialah intan, korundum, grafit, arsen, pasir kuarsa, fluorspar, kriorit, yodium, brom, klor, belerang, fosfat, halit, asbes, talk, mika, magnesit, yarosit, oker, fluorit, ball clay, fire clay, zeolite, kaolin, feldspar, bentonit, gypsum, dolomite, kalsit, rijang, pirofilit, kuarsit, zircon, wolastonit, tawas, batu kuarsa, perlit, garam batu, clay, serta batu gamping.

4. Batuan serta batubara. Batuan merupakan benda keras serta padat yang datang dari bumi, yang bukan logam. Batuan dibagi berubah menjadi 47 jenis ialah pumice, tras, toseki, obsidian, marmer, perlit, tanah diatome, tanah serap, slare, granit, granodiorit, andesit, garbo, periodit, basalt, trakhit, leusit, lempung (jawa), tanah urug, batu apung, opal, kalsedon, chert, kristal kuarsa, jasper, krisoprase, kayu terkersikan, gamet, giok, agat, diorite, topas, batu gunung quarry besar, kerikil galian dari bukit, kerikil sungai, batu kali, kerikil sungai ayak tiada pasir, pasir urug, pasir pasang, sirtu, tanah, urukan tanah ditempat, tanah merah, batu gamping, onik, pasir laut, serta pasir yang tidak punya kandungan faktor mineral logam atau faktor mineral bukan logam dalam banyaknya yang bermakna ditilik dari sisi ekonomi pertambangan. Batuan dibagi berubah menjadi 4 jenis ialah bitumen padat, batuan aspal, batubara serta gambut.

Asas-asas Pertambangan

Berdasar pada Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 terkait Pertambangan Mineral serta Batubara, ada empat azas yang berlaku dalam penambangan mineral serta batubara, ialah:

a. Kegunaan, Keadilan, serta Keserasian

Azas kegunaan dalam pertambangan merupakan azas yang tunjukkan jika dalam melaksanakan penambangan mesti dapat memberikannya keuntungan serta kegunaan yang sebesar-besarnya untuk penambahan kemakmuran serta kesejahteraan rakyat. Azas keadilan merupakan dalam melaksanakan penambangan mesti dapat memberikannya kesempatan serta peluang yang sama lewat cara seimbang untuk seluruhnya penduduk negara tidak ada yang dikecualikan. Dan azas keserasian merupakan dalam melaksanakan aktivitas penambangan perlu melihat sektor-sektor lain terlebih yang bersangkutan langsung dengan efeknya.

b. Berpihaknya pada Kebutuhan Negara

Azas ini mengemukakan jika dalam melaksanakan aktivitas penambangan mengarah pada kebutuhan negara. Meskipun dalam melaksanakan upaya pertambangan dengan memanfaatkan modal asing, tenaga asing, ataupun rencana asing, tapi aktivitas serta hasilnya cuma buat kebutuhan nasional.

c. Partisipatif, Transparansi, serta Akuntabilitas

Azas partisipatif merupakan azas yang ingin jika dalam melaksanakan aktivitas pertambangan diperlukan ikut serta warga buat pengaturan peraturan, pengendalian, pengamatan, serta pengawasan pada realisasinya. Azas transparansi merupakan keterbukaan dalam penyelenggaraan aktivitas pertambangan dikehendaki warga luas bisa mendapatkan info yang benar, jelas serta jujur. Sebaliknya warga bisa memberikannya bahan saran pada pemerintah. Dan azas akuntabilitas merupakan aktivitas pertambangan dijalankan dengan beberapa cara yang benar sampai bisa dipertanggungjawabkan pada negara serta warga.

d. Berkepanjangan serta Berpandangan Lingkungan

Azas berkepanjangan serta berpandangan lingkungan merupakan azas yang lewat cara terencana mengintegrasikan dimensi ekonomi, lingkungan, serta sosial budaya dalam total upaya pertambangan mineral serta batubara buat wujudkan kesejahteraan dewasa ini serta saat mendatang.